Kamis, 22 Januari 2009

MOTIVASI

TELAGA HATI

Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang dirundung masalah Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan
semua masalahnya.
Pak tua bijak hanya mendengarkan dgn seksama, lalu Ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas
air.Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan,
“Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya “, ujar pak tua
“Pahit, pahit sekali “, jawab pemuda itu sambil meludah ke samping
Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga
yg tenang itu. Sesampai disana, Pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.
“Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah.” Saat si pemuda mereguk air itu, Pak tua kembali bertanya lagi kepadanya,
“Bagaimana rasanya ?”
“Segar”, sahut si pemuda.
“Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?” tanya pak tua
“Tidak, ” sahut pemuda itu
Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata:
“Anak muda, dengarkan baik-baik. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa
pahitnyapun sama dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yg kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu
akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada
satu yg kamu dapat lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu”.
Pak tua itu lalu kembali menasehatkan:
“Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yg
mampu menampung setiap kepahitan itu, dan merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian. Karena Hidup adalah sebuah pilihan, mampukah kita jalani kehidupan
dengan baik sampai ajal kita menjelang? Belajar bersabar menerima kenyataan adalah yang terbaik”
sumber : milis, bagi yang tahu penulis aslinya mohon informasinya. thanks

Rabu, 21 Januari 2009

SOAL LATIHAN ULANGAN PERBANDINGAN DAN SKALA.
Soal no 1 – 5
Indikator: Siswa dapat menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan perbandingan.

1. Jumlah siswa kelas VI ada 60 anak, 24 anak siswa putri. Perbandingan jumlah siswa putra dan putri adalah ... : …
2. Umur Ibu 2 2/3 umur anaknya. Jika umur anaknya 12 tahun, maka umur Ibu adalah … tahun.
3. Uang A : B adalah 8 : 13, selisih uang A dan B adalah rp 17.500,00. Hitung jumlah uang Adan B masing …
4. Jarak rumah ke sekolah Amir : Umar : Bahar adalah 2 : 5 : 3. Jumlah jarak rumah Amir dan Umar ke sekolah ada 14 km. Hitung jarak rumah masing-masing ke sekolah!
5. Berat badan A : B adalah 3 : 4, sedang berat badan B : C adalah 2 : 3. Jika berat badan A 42 kg, maka selisih berat badan B dan C adalah … kg.

Soal no 6 – 10
Indikatornya: Siswa dapat menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan skala.

6. Jarak kota A dan B pada peta 4 cm. Jika skala peta 1 : 2.250.000, maka jarak sebenarnya kota A dan B adalah ….km.
7. Tinggi sebuah pohon pada sebuah lukisan 3,5 cm. Skala pada lukisan itu 1 : 400. Tinggi sebenarnya pohon itu adalah … m
8. Jarak stasiun Hati Suci ke stasiun Cahaya Hati 70 km. Pada peta berskala 1 : 350.000, jarak kedua stasiun itu adalah … cm.
9. Panjang sebuah halaman 45 m. Halaman itu digambar dengan skala 1 : 400. Panjang halaman pada gambar/denah adalah … cm.
10. Panjang sebuah jalan pada peta 7,5 cm. Panjang sebenarnya jalan itu 45 km. Skala peta yang digunakan adalah ….

हक्क

HKK

Jumat, 16 Januari 2009

BELAJAR DARI ANAK PALESTINA



Suara Anak Palestina (Seandainya Aku Terlahir Palestina)
Oleh M. Nurul Amin
Palestina, ya, Tuhan menghendaki aku terlahir di Palestina. Negeriku, Palestina, darahku, Palestina. Aku terlahir di tengah desing peluru dan aroma kematian. Aku tak tahu, mungkin saat aku dilahirkan, tak jauh dari sisiku, ada saudaraku sesama anak Palestina yang meregang nyawa dengan luka menganga di dada dan kepala akibat peluru yang meghujam atau pecahan bom yang mendera.
Aku menangis saat dilahirkan, itulah garis hidupku, untuk menangis diawal kehidupanku. Mungkin tak jauh dari sisiku, ada juga yang menangis, ya, Ibu dari anak Palestina yang kehilangan anak akibat kejamnya peperangan. Anak itu sudah tidak bisa lagi menangis, mana mungkin, dia sudah terbujur kaku, tak berdaya dengan darah mengalir dari luka yang pasti sakit tak terkira…
Ibuku, pasti tersenyum saat aku lahir ke dunia, meski aku yakin, ia tak akan menampakkannya saat melalui lorong kematian di rumah sakit yang penuh sesak dengan gelimpang korban anak Palestina. Ibuku, pasti menangis jua, meski tertahan sesak di dada.
Ayahku, saat itu tak ada, kelak aku tahu bahwa saat aku memandang dunia, dia tengah memandang kematian dengan sekedar batu melawan tank dan tentara yang membabi buta, menyerang menggila. Aku beruntung, masih bisa bertemu ayahku, meski pada akhirnya aku harus rela, ayahku kelak juga terbujur di tengah deru pesawat tempur yang memuntahkan bom kemana saja, di kota yang kucinta.
Gaza, itu tercatat dalam buku kelahiranku, aku terlahir di Gaza.
Masa kecilku, kulalui dengan mainan senjata dan perang-perangan, ya, bagaimana tidak. Kotaku dikuasai pasukan asing bersenjata. Sesekali kulihat senjata itu menyalak, memuntahkan isinya, ada gas air mata, dan tentu ada yang peluru tajam meminta nyawa, warga Palestina, dan tak jarang anak Palestina.
Aku melihat anak Palestina seusiaku, sudah berani melawan pasukan asing meski hanya dengan ketapel kecil berisi sejumput batu yang tak berarti apa jika mengenai tameng tentara atau besi kendaraan lapis baja. Mereka berani tampil ke muka hingga ke dekat moncong senjata. Aku tak tahan, akhirnya akupun ikut jua.
Aku senang, karena aku merasa sebagai pejuang, alias jagoan. Aku tak takut, bukankah anak Palestina lain juga tidak takut ?
Aku belum berusia remaja sampai suatu saat kelak aku kehilangan kawanku yang kulihat kerap melempar batu dan melontar ketapel tak lelah-lelahnya, ya kelak ku tahu itu bernama Intifada. Kawanku menjadi korban Intifada.
Lama kelamaan aku menjadi terbiasa, melihat dan mendengar kawan, saudara, kerabat ataupun orang tak kukenal yang hilang atau tak tentu semesta, kabarnya dibawa pasukan asing dimasukkan ke penjara gelap gulita, atau tewas tak bernama. Aku terbiasa mengalami kehilangan, aku terbiasa melihat dan merasakan derita, aku terbiasa melihat airmata dan pasti aku terbiasa melihat warna merah mengalir dimana-mana.
Kata semua orang, kini kau sudah menjadi anak Palestina !.
Baru kutahu, anak Palestina berarti anak terjajah, yang harus membebaskan negeri dari cerita kelam negeri yang terlunta. Dan baru kutahu, Israel adalah negara yang dahaga atas tanah Palestina. Aku mulai merasa, bahwa aku bermakna dan bangga menjadi anak Palestina.
___________________
Kini, di penghujung tahun, kudengar lagi deru mesin tempur berseliweran di langit kotaku, kudengar dentuman membahana di sudut-sudut wilayah permaiananku, kutatap kilatan cahaya mematikan menyilaukan pandangan mataku disertai bunyi sirene di segala penjuru.
Pagi, siang dan malam terus berlanjut tak menentu, deru itu, dentuman itu dan kilatan cahaya itu menyergap seluruh sisi hidupku. Kulalui hari dengan berlari, berlindung dan bersembunyi dari serbuan tak menentu.
Aku tak tuli, kudengar tangisan dimana-mana, kudengar jerit teman sebaya, Ibu-ibu Palestina menggendong anak dan orang tua paruh baya yang terpaksa harus terpapah tanpa daya. Dan kudengar lenguh terakhir nyawa di dada.
Aku tak buta, kulihat luka, kulihat jasad dimana-mana, kulihat merah itu ada dan tak terkira, kulihat kotaku tak lagi indah mempesona. Dan harapan itu sepertinya sirna.
Aku tak menangis, meski ayahku menjadi jasad tersisa di tengah gempuran melanda kota. Tak ada lagi tangis, aku sudah terbiasa, seperti juga anak Palestina lainnya.
Waktu itu tiba, kata orang mulai ada perang kota !
Aku berlindung dibalik reruntuhan bangunan rumah ibadah, yang hancur oleh tembakan serdadu nista, aku lihat, ada orang Palestina bersenjata, dengan tutup wajah dimuka, kutahu juga ada remaja Palestina memanggul senjata. Mereka sigap, lincah, berlari ke sudut-sudut tak terjamah, melawan pasukan asing yang menyerbu kedalam kota. Aku tahu, mereka siap mati di tanah tercinta.
Ah, seandainya aku bisa melalui hari-hari ini, tanpa sebutir peluru mengenai dada, tanpa pecahan bom menerpa kepala, mungkin aku tak-kan lupa, ini catatan kelam manusia di tanah terjajah, Palestina.
Tuhan, perkenankan aku menjadi remaja, agar aku bisa berlari membawa bendera Palestina, berikat kepala, bolehlah juga bersenjata, apa adanya, melawan pasukan Israel sampai tetes terakhir itu tiba.
Kalau kau berbaik hati Tuhan, ijinkan aku menjadi dewasa, agar aku mengikat keras bendera Palestina di tiang dan sisa bangunan menjulang ke angkasa. Kulekatkan ikat kepala, selekat jiwa dan raga, senjata, apapun bisa kuguna, melawan hingga gelora di dada sirna bersamaan dengan hembusan nafas yang tersisa.
Aku anak Palestina, selamanya Palestina, darahku, merahnya Palestina..

Selasa, 13 Januari 2009

Selasa, 06 Januari 2009

UASBN SKL 4

Indikator 4:
Menentukan soal cerita yang berkaitan dengan penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.

Contoh soal 1:
Sebuah truk mula-mula memuat 7.050 kg beras, kemudian beras itu diturunkan di sebuah toko sebanyak 4.780 kg. Dalam perjalanan sopir truk itu menaikkan buah jeruk sebanyak 965 kg. Berat muatan truk itu sekarang adalah ... kg.
A. 3.135
B. 3.235
C. 3.355
D. 4.235

Contoh soal 2:
Sebuah perusahaan memiliki sebuah ladang 120.500 m2. Kemudian membeli lagi 9.550 m2. Ditanami jagung 33.750 m2, ditanami kedelai 67.980 m2. Sisanya ditanami padi. Luas ladang yang ditanami padi adalah ... m2.
A. 28.320
B. 28.430
C. 29.320
D. 29.430

Contoh soal 3:
Suhu di dalam kulkas mula-mula –8°C, beberapa saat kemudian aliran listrik terputus dan suhu naik 14°C. Setelah aliran listrik kembali tersambung suhu di dalam kulkas turun 10°C. Suhu akhir di dalam kulkas itu adalah ... °C.
A. 16
B. 4
C. –4
D. –12

Contoh soal 4:
Pada sore hari suhu di puncak Merapi 3°C, pada malam turun 8°C. Kemudian pada siang hari berikutnya suhu naik 16°C dari keadaan malam hari. Perbedaan suhu pada sore dan siang hari berikutnya adalah ... °C.
A. 11°C
B. 8°C
C. –8°C
D. –11°C

Senin, 05 Januari 2009

WORO-WORO


Untuk anak-anak SDIT LH maaf ya sementara update soal-soal latihan UASBN mandeg sejenak, seban kemungkinan ada perubahan kisi-kisi soal (SKL). Tunggu sampai ada kepastian, Insya Allah tanggal 9 Januari 2008.

"GUNAKAN KESEMPATANMU SEBELUM DATANG KESEMPITANMU"